Buat Financial Check Up. Supaya Jadi Ibu Bijak!

By 19.58

Menikah bukan hal mudah lho, dari sebelum menikah ini sudah tak sadari jauh hari. Bahkan gak sesimple yang dibayangkan dari dulu kala, kalau setelah menikah itu cuma ada aku dan kamu (ya elah ngimpi ah). Aku sudah menyadari sebelum menikah, bahkan merasa kewajiban seorang ibu rumah tangga untuk mengatur segalanya sudah terasa sebelum menikah.


Kok gitu?? Ia karena terlahir anak tunggal jadi begini (eh gak dink hihi). Mama sudah terkena serangan stroke sekitar tahun 2006 setelah gempa, otomatis semenjak itu beliau off untuk mengurus semua kewajiban yang ada selama ini. Tinggallah aku dan bapak, jadi?? Gak ada pilihan lain aku lah yang maju jadi ibu rumah tangga mendadak. Mulai dari masak, ngurus rumah, arisan, tengok tetangga, dll sudah dilakoni sejak dulu, masih ditambah harus kuliah



Gaji dan pendapatan lain dari bapak otomatis setiap bulan langsung lari ke aku, wah pesta nich hihi. Tapi enggak aku mulai saat itu mecoba menghitung total pendapatan dan seluruh biaya yang ada, kalau mau membeli apa-apa harus berpikir 1000x apakah perlu atau tidak. Kalau beli ada postnya atau gak, jangan sampai ngrusak yang lain hihi



Nah makanya setelah menikah langsung mengatur keuangan rumah tangga bagiku gak terlalu berat dan mengagetkan, secara sudah melakukan ini sejak lama. Hanya yang membuat beda ada cost lain yang dikeluarkan dari dulu. Bagaimana mengatur keuangan itu juga harus berpikir tentang pola hidup, jangan sampai pola hidup kita membuat pusing sendiri.



Nah kebetulan nich kemarin ikut aja Visa Ibu Berbagi Bijak, nah cocok banget buat aku yang masih belum tau sebenernya dasarnya jadi Ibu yang Bijak dalam negatur rumah tangga terutama keuangan. Selama ini cuma by pengalaman aja sich. Habis gak tau harus belaja kemana nah ini yang cocok banget buat akohhh.



Acara Ibu Berbagi Bijak menghadirkan Prita Hapsari Ghozie seorang Financial Planner. Kita membahas tentang Financial check Up. Perlu tau ya masalah keuangan, ternyata ada 18% punya hutang, dan 32% punya gaya hidup yang tinggi. Nah kalau ternyata gak ideal untuk mencapai kondisi ideal, yang harus dilakukan dengan memulai financial check up, kita buat dana darurat, mengatur utang, sampai akhirnya bisa merencanakan keuangan keluarga dengan baik.


Mba Prita Ghozie
Menurut Mba Prita keuangan yang sehat itu banyak faktor, tapi untuk melihat apakah keuangan sehat atau enggak ada indikatornya lho. Ini indicator tentang keuangan kita sehat atau tidak :
  • Dikatakan tidak sehat, jika pengeluaran lebih besar dari penghasilan, berutang kartu kredit dan tidak punya aset.
  • Dikatakan sehat, jika pengeluaran sama dengan penghasilan, terlambat membayar lunas tagihan kartu kredit, dan investasinya minim.
  • Dikatakan mandiri jika penghasilan lebih besar dari pengeluaran, tidak punya utang kartu kredit, dan investasinya maksimal.
  • Dan dikatakan sejahtera, jika penghasilan lebih besar dari pengeluaran, penghasilan pasif dari aset, tidak punya utang dan berderma.

Nah hayo kalau begini gimana keuangan keluarga kalian? Wah ini mulai was-was juga selama ini bagaimana. Semoga aman terkendali. Lanjut dulu ahhh biar gak pucing hihi

Trus cara tau kalau keuangan kita sehat gimana hayo?? Haduh ini masalah baru dan bikin aku deg-deg dueeeerrrr masuk yang mana ya. Kalau masalah pengen pastipengen mandiri atau sejahtera, tapi kehidupan ini belum semulus itu hehehe. Mba Prita menjelaskan untuk tau sehat, mandiri atau sejahtera ada 3 barometernya, nah ini 3 macam cara taunya :

1.  Tabel kekayaan bersih (Tabel Aset dan Kewajiban)
Keuangan rumah tangga ternyata gak semudah yang dibanyakngkan dan sesimple sekarang hehehe. Kita harus tau total kekayaan bersih keuarga kita sekarang ini, cara menghitungnya total aset dikurangi total kewajiban. Dalam aset kas ada tabungan dan deposito, serta reksadana. Dalam investasi dimasukkan investasi yang kita miliki, seperti ORI/Sukuk, logam mulia, hingga saham dan unit link. selain itu ada Aset konsumsi ada rumah dan kendaraan. Jangan sampai lupa dimasukkan kewajiban yang dilakukan selama ini, misal utang kartu redit dan utang pinjaman, kredit rumah, kendaraan dan lainnya.

2. Arus kas rutin dan tidak rutin
Menurut mba Prtita seorang ibu atau wanita biasakan mencatat pengeluaran dan pemasukan, bon atau struk jangan hanya disimpan. Yang dicatat dalam arus kas masuk dari mulai gaji rutin yang didapat tiap bulan, sampai bonus yang didapatkan. Trus gak cuma pemasukan tapi pengeluaran juga ya, kaya biaya rutin harian (biaya rumah tangga), cicilan, hingga biaya liburan dan lainnya.
Pengeluaran gak ahanya uang keluar aja lho tapi ada pos-pos nya. Hayoo apa aja??
  • Wajib dan tetap: ada cicilan, ung sekolah, Gaji ART, supir dan premi asuransi.
  • Wajib dan fluktuatif: Listrik, telepon, biaya makan, transportasi, dan tabungan serta investasi.
  • Tidak wajib dan tetap: Mulai dari internet, TV kabel, les anak dan pribadi, majalah koran dan arisan.
  • Tidak wajib dan fluktuatif: Mulai dari hiburan, hadiah, kafe hingga liburan.

Nah ini bisa jadi acuan ibu-ibu dan wanita untuk mencatat pengeluarannya masuk kategori yang mana jangan sampai salah emmasukkan ya hehe

3. Rasio-rasio keuangan
Dalam rasio keuangan kita harus tau tentang 3 hal, yakni rasio dana darurat yang menggambarkan berapa besar harta lancar yang tersedia untuk membayar biaya hidup. Selain itu ada rasio menabung yang menggambarkan porsi tabungan dan investasi dibandingan dengan penghasilan. Dan yang terakhir adanya rasio berutang, ini menjadi indikator yang menunjukkan berapa besar utang yang dimiliki dibandingkan total penghasilan. Nah kalau rasio diatas sudah tau kita bisa mengetahui bagaimana pola keuangan rumah tangga kita.

Sebuah keluarga tidak tau apa yang akan terjadi esok, jadi sebaiknya kita harus menyiapkan segalanya untuk lebih baik. Dana Darurat wajib dipikirkan supaya jika terjadi sesuatu ada yang bisa kita gunakan untuk menutupnya. Dana darurat memiliki manfaatnya yang banyak dan bisa digunakan untuk berbagai hal, mulai dari biaya kesehatan (biaya dokter, biaya obat, hingga bisaya rumah sakit yang tidak bisa ditunda), musibah (bencana alam, kemalingan dan kematian), terjadinya PHK secara mendadak, dan kerusakan peralatan rumah tangga seperti AC, kulkas, dan lainnya. Menurut mba Prita sebuah keluarga sebaiknya memiliki dana darurat 3x pengeluaran rutin kita sebulannya. Jadi jika terjadi apa-apa kita masih punya uang untuk 3 bulan mendatang.

Nah selain itu di era modern saat ini banyak orang memilih hutang, gesek sana dan gesek sini untuk mendapatkan uang dengan cepat. Padahal itu belum tentu pas untuk keluarga kita lho. Kalau kita akan mengambil hutang harus memiliki manfaat jangan sampai hutang itu malah menjadi masalah tersendiri untuk kita. Kalau mba Prita bilang, hutang itu harus produktif, contohnya :
  1. Nilai manfaat. Dimana nilai manfaat ini harus lebih pajang dari nilai pembayaran cicilan.
  2. Mendatangkan penghasilan. Dengan bantuan pinjaman, maka memiliki aset yang berpenghasilan
  3. Suku bunga pinjaman. Adanya perbandingan suku bunga efektif, bukan tertera atau flat


Selain ilmu yang apik banget kita juga diajak untuk menghitung bagaimana keuangan rumah tangga kita, mengisi berapa persen biaya yang dikeluarkan untuk kebutuhan lainnya. Tapia da gambarat nich keuangan yang baik menurtu Mba prita yaitu : 5% untuk zakat; 10% menabung dana darurat; 30% biaya hidup; 30% cicilan pinjaman; 15% investasi; 10% gaya hidup. Nah hayo kalau ibu-ibu sekalian gimana??

Seneng banget bisa belajar tentang keuangan rumah tangga. Banyak hal yang dapat dipelajari untuk kedepan, jangan sampai kita terperosok ke dalam masalah yang harusnya bisa kita tanggulangi sebelumnya. Nah ini PR banget buat aku menghitung rinci bagaimana keuanganku saat ini. Nah yuk kita hitung bareng, gimana keuangan kita masing-masing. Sehat gak?
Buku Pas Buat Belajar

You Might Also Like

27 comments

  1. seneng ya bisa belajar kelola keuangan bareng Visa Ibu Berbagi Bijak dan Mba Prita Gozhie. Jadi tercerahkan gitu :)

    BalasHapus
  2. Datang ke acara ini, aku jadi tahu banyak tentang pengelolaan keuangan keluarga dan bisa cek juga kondisi keuangan keluarga :)

    BalasHapus
  3. Sudah biasa mengatur keuangan dari muda jadi kerasa manfaatnya sekarang ya, Mbak setelah menikah :)

    BalasHapus
  4. Ciyeee mbak Rian, istri idaman ya, rajin mencatat pemasukan dan pengeluaran? Beruntung deh Mas Tomi :D

    BalasHapus
  5. Waahh nggak nyangka ternyata di balik penampilanmu yang tomboy ternyata temuo juga dalam mengatur keuangan rumah tangga. Besok aku belajar banyak sama kamu ya, Berbiee.

    BalasHapus
  6. Duluuuu banget, aku suka nyatet cash flow. Tapi setelah menikah, catatan cash flow hanya pada income dan cash outnya gak di rekam.

    Lha kalau di catat semua, bisa bikin baper soale. Heheheee

    BalasHapus
  7. Wah, seru kalau belajara cara mengelola keuangan! Yang jadi PR kadang keinginan punya ini dan itu, jadinya kadang pengeluaran tak terencana jadinya banyak. Kadang ada kebutuhan darurat juga, ada big sale jadi bablas belanjanya.

    BalasHapus
  8. aku baca-baca agak mudeng, beberapa kali terutama yang tabel, sebenarnya pingin banget belajar ini, soalnya keuangan keluarga belum teratur

    BalasHapus
  9. kalau aku masih tergolong mandiri, alhamdulillah penghasilan saat ini bisa dibilang cukup dan ada sisa untuk ditabung, tidak ada tunggakan kredit dll. sepertinya aku harus memangkas pengeluaran tidak wajib seperti belanja online nih. hehehehe.

    BalasHapus
  10. Wah buat para laki harus ketahui ini juga nih biar ingetin jangan khilaf barang hobbyan

    Kayanya harus belajar banyak nih mengenai finansial keuangan biar bisa menghemat dan menggunakan uang dengan baik dan tidak boros ya mba

    BalasHapus
  11. Aku ga pernah nyatat-nyatat , pernah sih dulu...malah jadi mikir panjang kalau mau ngeluarin duit qiqiqi

    BalasHapus
  12. sebenarnya mencatat pengeluaran itu penting ya biar ketahuan pos pos mana aja yang penting dan ga penting.....tapiiii, ya gitu deh....

    BalasHapus
  13. Kalau bisa membuat financial checkup pasti bagus banget ya, Mbak. Tapi oh tapi... Kalo saya masih kesulian buat ngrekap segitu banyaknya catatan. Semoga pelan2 bisa, deh :)

    BalasHapus
  14. Waaaaahhhhh, aku masuk dalam kategori tidak sehat, yah 😭😭😭😭

    Sebagai calon Ibu rumah tangga, aku juga mesti belajar banyak soal mengatur keuangan nih. Biar hidup sejahtera bareng si Mas. Uhuk....

    BalasHapus
  15. Alhamdulillah sehat, tapi belum mandiri krn belum bisa investasi maksimal. Hiks

    BalasHapus
  16. Masih taraf impas.. ya masuk sehat lah.., bukan karena terlalu banyak belanja..karena pendapatan lebih kurang sama dengan wajib ikutan bulanan... Hiks;(

    BalasHapus
  17. Dikatakan tidak sehat, jika pengeluaran lebih besar dari penghasilan, berutang kartu kredit dan tidak punya aset. nah itu tuh bener banget.
    jujur aku sampe saat ini masih menahan untuk punya kartu kredit karena takut gampang banget belanja belinji mengingat itu hobi banget takut malah jadi boros seboros borosnya huahaha
    makanya walaupun hobi belanja tapi ngerem ngerem mana yang penting mana yang nggak yaa walaupunn kadang kadang masih suka kebablasan

    seneng nih baca baca postingan ini aku jadi lebih tahu dan belajar banyak soal mengatur keuangan, gak pengen kan jadi istri dan ibu yang keuangannya tidak sehat

    BalasHapus
  18. semoga dalam waktu dekat keadaan finansial jadi sejahtera. punya penghasilan pasif dan rajin berderma. hidup sungguh indah dan menyenangkan :) Sekarang mulai mengatur keuangan nih. harus bener bener diperhatikan dengan baik

    BalasHapus
  19. Buat ngatur keuangan sendiri, kayaknya aku bisa masuk kategori mandiri nih. Tapi belum tau kalo ngatur keuangan keluarga. Coba berkeluarga dulu apa, ya, Mbak? Eh. Hahaha.
    Aku juga suka atur-atur keuangan sih. Itung ini itu walaupun casenya masih pribadi, tapi kayaknya itu juga masuk dalam bagian pelatihan ya. Lumayan nih buat jadi catatan apa aja yang mesti diperhatikan.

    BalasHapus
  20. Bener banget, akupun selalu kepikiran buat nabung habis menikah bukan buat nikah wkwkwk

    BalasHapus
  21. Ini nih enaknya ikut acara sharing beginian.. Kita jadi paham bagaimana mengelola keuangan dengan bijak. Saya pun masih perlu belajar lebih keras lagi sepertinya. Salut sama Ryan yang sudah belajar detail sedari belum menikah.

    BalasHapus
  22. Saya sampai catat persen-persen keuangan yang sehat ala Mbak Prita, loh! Untuk mengecheck keadaan keuangan keluarga saya saat ini. Selama ini saya juga mencatat pengeluaran wajib dan rutin dalam keuangan keluarga. Mau saya lihat,apakah sudah sehat seperti yang diuraikan oleh Mbak Prita. Makasih sharingnya Mbak Ryan :))

    BalasHapus
  23. Wah mbak Rian hebat iih. Sudah gape menjalankan keuangan rumah tangga bahkan sejak sebelum menikah.


    Masih jadi PR buat aku nih mbak, urusan investasi dan aset plus dana darurat. Tahun depan si bungsu masuk SD pula, makin pusing deh mikirin keuangan keluarga

    BalasHapus
  24. baca postingan ini inget materi keuangan dari sesembak financial planner jg.. mirip isinya cm beda istilah aja xiii..

    yang ini pakai mandiri sejahtera, yg itu pakak sehat dan kuat.

    tp garis besarnya, kalau mau keuangan aman, bukan sebesar apa penghasilan tapi sepintar apa kita mengaturnya..

    makasih mb rian atas sharring ilmunya ini.. memotivasi aku banget

    BalasHapus
  25. oh jadi banyak karena punya hutang dan gaya hidup ya keluar duit. ini tips n fakta menarik hehe

    BalasHapus
  26. Saya blm ngitung2, apalagi ini single
    Sepertinya msh sehat sih. Makan nasi masih numpang orangtua, heheh

    BalasHapus
  27. Wowh, dirimu anak tunggal to Kakak. Baru tahu akuhhh hahaha, dan jadi ibu rumah tangga dadakan ternyata ga mudah ya wkwkkw. Apalagi ibu rumah tangga beneran yang harus bisa mengatur keuangan rumah tangga pastinya. So, acara ini membantu banget lho untuk membuka wawasan kita sebagai emak yang wonder woman dalam mengurus keuangan hehe

    BalasHapus