Minggu, 05 Agustus 2018

Menjadi Barista Membuat Kita Setara

Mas Eko, Frischa, Rani, Bara dan Moderator
Sebagai seorang manusia biasa kita semua memiliki kekurangan. Kekurangan tak hanya urusan finansial atau yang lainnya, kekurangan ini memiliki banyak aspek. Salah satunya saudara kita penyandang disabilitas.
Terlahir memiliki kekurangan ini adalah hal yang tidak mudah, menerima kenyataan ini pun sangat berat. Butuh ketegaran dalam menghadapin hidup bermasyarakat, pandangan negatif kadang menghantui setiap saat kehidupan saudara kita

Kemarin Minggu 29 Juli 2018 saya sempat main ke Yakkum Jalan Kaliurang km 13 Sleman Yogyakarta diadakan acara "Barista Inklusif #KarenaKopiKitaSetara". Acara yang memiliki nilai tersendiri bagi saya, ada haru dan bangga menyeruah di hati saat melihat saudara kita.

Istilah difabel dan disabilitas sendiri memiliki makna yang agak berlainan. Difabel (different ability—kemampuan berbeda) didefinisikan sebagai seseorang yang memiliki kemampuan dalam menjalankan aktivitas berbeda bila dibandingkan dengan orang-orang kebanyakan, serta belum tentu diartikan sebagai "cacat" atau disabled. Sementara itu, disabilitas (disability) didefinisikan sebagai seseorang yang belum mampu berakomodasi dengan lingkungan sekitarnya sehingga menyebabkan disabilitas

Keterbatasan saudara kita penyandang disabilitas ini bukan jadi masalah lho. Mereka tetap penuh senyuman dan tegas dengan keterbatasannya. Apalagi baru-baru ini ada pelatihan menjadi barista di Yakkum, Yakkum memberikan pelatihan menjadi barista. Bagaimana keterbatasan bukan menjadi masalah untuk melakukan banyak hal seperti orang pada umumnya

Program peduli ini sebagai salah satu untuk membuat mereka setara dengan siapapun. Ketika teman-teman disabilitas membuat seduhan kopi yang enak, kopi menjadi prioritas utama perhatian mereka. Dengan seduhan kopi menjadikan kita semua sama, kita tidak memiliki perbedaan. Ketrampilan membuat kopi atau menjadi barista ini tidak mudah, butuh ketelatenan dan kepekaan melihat kopi mana yang bagus

Acara kemarin mengadakan talkshow dengan Bernard Batubara, Frischa Aswarini, Ranie Ayu Hapsari dan Eko Sugeng. Mereka adalah orang-orang yang berkompeten dan memilik konsen tinggi terhadap kopi. Siapa gak kenal Bernard Batubara atau bara seorang penulis, menurut bernard penulis selalu mencari tempat yang oke untuk menuangkan ide. Ketika ada tempat nyaman ide akan muncul dengan mudah, kenyamanan adalah hal utama. Nah kenyamanan ini bagi bara sering ditemui di warung kopi, dengan seduhan kopi super istimewa membuat ide semakin mengalir

Frischa membaca puisi
Berawal dari tempat kerja dan nongkrong, hampir setiap hari bara menemui kopi dengan aneka macamnya. Ini membuat lama-lama bara menjadi cinta dengan kopi. Bara mengakui jika benar sayang itu dari mata turun ke hati, itulah gang bara rasakan dengan kopi ini. Setiap hari bertemu kopi akhirnya tertarik dan cinta juga

Beda bara beda dengan Frischa sebagai seorang penulis filosofo kopi 2 dan memiliki pengalaman kakak yang penyandang disabilitas. Frischa sangat memahami bagaimana seorang disabilitas harus menjadi kuat dan tegar kapanpun dimanapun. Frischa juga merasakan harus kuat saat mengurus kakaknya. Sungguh Frischa merasa senang dengan kopi saudara kita penyandang disabilitas bisa merasa sama dengan orang lain. Diterima dengan senang hati, kopi benar-benar membuat kita semua sama

Mas Eko
Mas Eko adalah salah satu penyandang disablitas yang mengikuti pelatihan Barista Inklusif. Mas Eko adalah sosok periang bahkan bisa dibilang tukang banyol, dia selalu membuat suasana seru dan penuh senyum. Mas Eko menceritakan meski banyak keterbatasan yang ada tetapi fasilitas yang disediakan sangat lengkap, ini membuat penyandang disabilitas merasa nyaman saat menjadi barista. Pengalaman yang sangat berharab ini akan terus dikembangkan oleh Mas Eko supaya keahliannya selalu bertambah

Mba Rani sebagai salah satu pengurus yakkum berharap program Barista Inklusif ini dapat berjalan terus, memberikan ketrampilan baru kepada para penyandang disabilitas. Dengan memiliki ketrampilan baru ini mereka semakin memiliki peluang kerja yang semakin baik. Bekerja menjadi barista memang tidak mudah tetapi mereka mampu dan bisa

Kesetaraan yang dibuat dengan mengadakan pelatihan Barista Inklusif ini menggugah semangat baru untuk lebih banyak berkarya. Meski memiliki keterbatasan tetapi ini tidak menjadi masalah bagi siappun untuk berkarya, karya yang dihasilkan pun sangat baik. Bisa dijual belikan bahkan di pamerkan dimana-mana

Semangat mereka menjadi cambuk semangat bagi kita juga untuk terus berkarya setiap saat. Jangan malu dan merasa memiliki beban, masih banyak yang lebih sulit dari kita. Kuncinya jalani dan syukuri

0 comments:

Posting Komentar